Situasi Yerusalem dan Jalur Gaza kian menegangkan. Saling lempar roket antara tentara Israel dan Hamas terjadi semalaman. Berunding untuk damai semakin jauh dari impian. Dikhawatirkan, Intifada Ketiga akan terwujud tidak lama lagi.
Ketegangan ini bermula dari hilangnya tiga pemuda Yahudi pada 12 Juni 2014, saat berjalan pulang sekolah di Khar Etzion, permukiman ilegal antara Bethlehem dan Hebron. Pencarian besar-besaran dilakukan oleh tentara Israel.
Lebih dari 2.100 bangunan di Tepi Barat digeledah. Sebanyak 566 warga Palestina ditahan tanpa alasan yang jelas. Di antara mereka adalah anggota dewan dan parlemen Otoritas Palestina. Tujuh orang tewas ditembak mati di wilayah Jenin.
Dua setengah minggu kemudian, Senin 30 Juni 2014, Naftali Fraenkel (16 tahun), Gilad Shaar (16), dan Eyal Yifrach (19) ditemukan telah menjadi mayat di dekat desa Halhoul, Tepi Barat. Mereka ada di dalam kuburan dangkal yang ditutup sekenanya dengan bebatuan. Israel murka.
Benjamin Netanyahu lantang menuduh Hamas. Dia bahkan menyalahkan Presiden Mahmoud Abbas yang melakukan rekonsiliasi dengan Hamas. Bibi --panggilan Netanyahu-- menegaskan akan menuntut balas atas kematian putra bangsa mereka.
Dua orang warga Hebron jadi tersangka, yaitu Marwan Qawasmeh dan Amer Abu Aisha. Rumah mereka dibakar pada Senin malam oleh Angkatan Bersenjata Israel. Akibat pembakaran ini, 15 orang kehilangan tempat tinggal.
Juru bicara Hamas di Gaza, Sami Abu Zuhri, membantah mereka terlibat dalam pembunuhan tiga pemuda itu. Namun, jika memang Bibi hendak "menjual" Hamas tidak takut "membeli".
"Netanyahu harus tahu bahwa ancaman tidak membuat Hamas takut. Dan, jika dia ingin berperang di Gaza, gerbang neraka akan terbuka untuknya," kata Sami.
Berikutnya bisa ditebak. Saling tembak roket terjadi antara Hamas di Gaza dan Israel. Hamas menembakkan 17 proyektil ke selatan Israel, mendarat di sebuah apartemen di Sderot, tidak ada yang tewas. Israel menembakkan 34 roket ke Jalur Gaza, melukai 10 orang, seperti disampaikan Ashraf Al Qidra, petugas di Kementerian Kesehatan Gaza.
Remaja Arab dibunuh
Sehari sebelum baku tembak, seorang remaja Arab Palestina di Yerusalem diculik dan dibunuh. Menurut keluarganya, Mohammad Abu Khieder (17 tahun) dicokok orang tidak dikenal pada Rabu sekitar pukul 4, saat berangkat salat subuh. Dalam rekaman CCTV, terlihat Khieder dihampiri sebuah mobil Hyundai, mereka menanyainya lalu membawanya pergi.
Sekitar 90 menit kemudian, jasad Khieder ditemukan di hutan oleh polisi Israel, keadaannya terbakar parah. Aparat menduga, dia dibunuh oleh orang-orang Yahudi sebagai balas dendam kematian tiga pemuda Israel. Polisi zionis melabelinya sebagai "kejahatan nasionalisme."
"Putraku dirampas dari pangkuanku. Putra-putra mereka penting bagi mereka, seperti putraku penting bagiku," kata ibunda Khieder, Suha Abu Khieder.
Pemuda Palestina yang marah turun ke jalan di Yerusalem Timur, bentrok dengan aparat Israel. Lemparan batu dan molotov dibalas dengan gas air mata, peluru karet dan granat asap. Bentrokan berlanjut terus hingga Rabu malam, sebelum akhirnya mereda dengan sendirinya.
Sementara itu, di kubu Israel, di pintu barat Yerusalem, pemuda-pemuda Yahudi menggelar aksi protes yang sama. Mereka mengecam pemerintah yang dianggap tidak tegas menyingkapi tewasnya ketiga pemuda. Mereka menuntut "hukuman kolektif" bagi seluruh rakyat Palestina.
Abu Mazen--julukan Abbas--menuduh Yahudi pemukim yang membunuh dan membakar Khieder. Dia menuntut Bibi untuk menangkap dan menghukum pelakunya dengan berat.
Sementara itu, Netanyahu memerintahkan polisi bekerja secepatnya untuk mencari siapa pembunuh Khieder dan menyerukan masyarakat untuk "tidak main hakim sendiri".
Intifada jilid III
Rangkaian peristiwa di atas membuat tensi ketegangan terus meningkat di kawasan itu. Ditambah lagi perundingan damai antara Israel-Palestina yang tidak menemui titik temu akibat pelanggaran-pelanggaran di kubu Netanyahu. Dikhawatirkan ini adalah adegan pembuka bagi Intifada Jilid III.
Intifada yang berarti perlawanan telah didengungkan oleh Hamas sejak bulan lalu. DiberitakanJerusalem Post, Hussam Badran, juru bicara Hamas di Jalur Gaza, mengatakan konfrontasi langsung antara warga Palestina dengan Israel semakin dekat. Pemicunya, tidak lain adalah pembangunan permukiman Yahudi yang membabibuta oleh Israel, diberangusnya perekonomian dan kebebasan warga Palestina.
Pejabat Hamas yang lain, Mushir al-Masri, mengatakan warga Palestina kini tengah bersiap untuk Intifada baru. Dia memperingatkan Israel untuk tidak melakukan "tindakan bodoh" terhadap warga Tepi Barat. Dia juga menuduh Otoritas Palestina pimpinan Abbas lembek, tidak mampu berbuat apa-apa untuk melindungi warganya.
"Tindakan tentara Israel saat ini telah meningkatkan temperatur di kalangan masyarakat Palestina. Pemerintah Palestina sedikit demi sedikit juga membangun alasan meletusnya Intifada yang baru," kata anggota Dewan Legislatif Palestina, Qais Abu Layla.
Kata "Intifada" digunakan untuk setiap gerakan perlawanan besar warga Palestina terhadap penjajah Israel. Intifada Pertama terjadi antara tahun 1987 hingga 1991. Seperti dikutip dariWashington Post, gerakan perlawanan ini diawali oleh tabrakan antara tank Israel dengan mobil warga Palestina pada 8 Desember 1987, menewaskan empat orang penumpangnya.
Rumor lantas berkembang, tank itu sengaja melindas mobil warga. Aksi perlawanan besar pecah. Massa yang marah melempari tentara Israel dengan batu dan molotov. Perang juga dilakukan di dinding dengan gambar-gambar graffiti. Warga melakukan boikot dan mogok kerja pada Israel. Sebanyak 80 ribu tentara Israel diturunkan di Gaza dan Tepi Barat.
Melawan mereka, militer Israel menggunakan peluru tajam. Kebijakan Israel kala itu adalah "kekuatan, kekuasaan dan hajar", atau dengan nama lain "patahkan tulang-tulang warga Palestina".
Selama empat tahun Intifada, diperkirakan 1.500 warga Palestina gugur, termasuk banyak anak-anak. Sedangkan di kubu Israel, 300 warga sipil tewas. Sebanyak 822 warga Palestina dibunuh oleh kawan sendiri, setelah dituduh mata-mata zionis.
Intifada ini berakhir pada kesepakatan gencatan senjata dalam Konferensi Madrid tahun 1991 dan Perjanjian Oslo tahun 1993.
Intifada Kedua terjadi pada 2000 hingga hingga 2005 lalu. Peristiwa ini dipicu pernyataan Ariel Sharon yang saat itu menjabat pemimpin partai oposisi Likud pada 28 September 2000. Sharon yang sedang kampanye mengunjungi Temple Mount atau Haram al-Sharif, tempat Masjidil Aqsa berada.
Dia kemudian berteriak "Temple Mount ada di tangan kita". Ini adalah frase yang didengungkan oleh radio Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967.
Sehari setelah kunjungan tersebut, kerusuhan terjadi di Kota Tua Yerusalem, menyebar ke Tepi Barat dan Gaza. Peristiwa ini terjadi di tengah kekecewaan atas gagalnya KTT damai Timur Tengah di Kamp Daud beberapa bulan sebelumnya.
Pengeboman bunuh diri dilakukan oleh warga Palestina untuk melawan tentara Israel yang bengis. Pada 2002, korban tewas akibat bom bunuh diri mencapai 238 orang.
Intifada Kedua mereda usai meninggalnya Yasser Arafat pada 2004 dan KTT Sharm el-sheikh pada 2005, saat Abbas dan Sharon bertemu untuk menghentikan kekerasan.
Menurut B'Tselem, lembaga HAM Israel, 3.200 warga Palestina dibunuh tentara Israel. Sementara itu, 950 orang di Israel dibunuh warga Palestina, sebanyak 649 di antaranya warga sipil.
Penyebab kematian Arafat masih samar hingga hari ini. Bukti terkuat, dia diracun oleh Israel. Sementara itu, Sharon meninggal Januari lalu, setelah delapan tahun koma.
Baik intifada satu dan dua dipicu oleh peristiwa yang tidak terduga, dari kecil lalu membesar jadi perlawanan nasional. Intifada Jilid Tiga mulai menapaki jalannya. Walau terkesan kebetulan, diduga Intifada adalah kejadian yang telah direncanakan dengan matang.
Seperti pada intifada kedua, ada sebuah teori yang mengatakan Yasser Arafat telah merencakannya sejak lama. Bukan tidak mungkin, Intifada Ketiga juga sengaja diletuskan oleh salah satu pihak. Kali ini, oleh pihak Israel.
Situs +972 mengutip perkataan seorang tentara Israel yang dimuat di sebuah media Yahudi berbahasa Ibrani, Hadrei Haredim. Dia mengatakan, Intifada Tiga sengaja dipicu pemerintah Netanyahu. Tentara sengaja memprovokasi agar warga melempari mereka dengan batu. Di saat itulah, penembak jitu Israel mengincar jidat-jidat warga Palestina.
Dari sini, diharapkan muncul gerakan besar di seluruh Palestina. Bukti lainnya rencana Israel ini, penculikan dan pembunuhan ketiga pemuda terjadi di Tepi Barat, lantas mengapa yang dibombardir Gaza?
"Ini adalah tujuan sebenarnya. Untuk memprovokasi warga palestina untuk membuat kekacauan, lalu membunuhi mereka," kata dia berbicara soal penggeledahan di Jenin. (asp)