Posted by KOPAS News on Monday, 4 August 2014

Inggris berharap Indonesia tidak kehilangan jati diri sebagai negara moderat. Inggris khawatir karakter moderat Indonesia bisa berubah karena tumbuhnya paham radikalisme.
Kecemasan Inggris ini muncul melihat adanya warga negara Indonesia yang ikut berperang di Suriah dan Irak. Lebih lanjut, Indonesia bahkan mulai dimasuki paham radikalisme yang disebar oleh kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada Juli 2014.
“Indonesia jangan menyia-nyiakan karakternya sebagai negara yang moderat. Negeri ini harus bercermin terhadap apa yang menimpa Pakistan. Sebelumnya, Pakistan adalah negara yang normal. Namun Anda bisa lihat kini betapa cepat negara itu berubah karena terpengaruh paham radikalisme,” ujar Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia, Mark Canning, dalam wawancara dengan VIVAnews di gedung Kedutaan Besar Inggris di Jakarta beberapa waktu lalu.
Canning berpendapat, setidaknya ada dua ancaman yang bakal dihadapi Indonesia dalam waktu dekat. Pertama, para ekstremis Indonesia akan kembali dari Suriah dan Irak dalam beberapa tahun mendatang. Kedua, sejumlah narapidana kasus terorisme di RI akan bebas tahun 2015.
Kekhawatiran Canning terkait mulai tersebarnya paham ISIS di Indonesia ia saksikan dengan mata kepala sendiri ketika hendak menyeberang ke Hotel Grand Hyatt di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Saat itu dia melihat ada sekelompok orang yang tengah berunjuk rasa.
“Di antara mereka, ada yang terlihat membawa bendera ISIS. Anda harus memahami, demokrasi dan kebebasan berbicara bukan berarti tidak memiliki batas,” kata Canning.
Di Inggris, ujar Canning, jika ada orang yang menyampaikan ceramah berisi kebencian dan tindak kekerasan, itu merupakan bagian dari tindak kejahatan dan mereka bisa ditahan.
Meski demikian, soal ancaman radikalisme ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Inggris pun mewaspadai ancaman serupa. Diketahui ada beberapa warga Inggris yang juga ikut pergi ke Irak dan Suriah.
“Kami tidak begitu paham bagaimana proses radikalisasi ini dimulai. Pemicunya juga bukan semata terkait isu kemiskinan. Warga kami yang berangkat ke Irak dan Suriah bahkan berasal dari kalangan menengah,” ujar Canning.
Menurut dia, faktor penarik yang digunakan untuk memikat para pemuda ikut berperang di Timur Tengah merupakan ideologi modern yang berbahaya. “Dan ideologi itu tengah disebar di kalangan pemuda,” kata Canning.
Polri Mengintai
Kapolri Jenderal Sutarman, 4 Agustus 2014, menyatakan Polri sudah mengidentifikasi sekitar 56 warga negara Indonesia yang berada di Suriah. Mereka berangkat ke Suriah melalui negara kedua dan ketiga.
Sementara Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyatakan ideologi ISIS bertentangan dengan Pancasila. ISIS bahkan menyebut Pancasila sebagai thogut (berhala) yang harus diperangi.
Menag mengatakan, dakwah Islam adalah merangkul semua kalangan dengan cara-cara yang baik, bukan dengan menebar ketakutan dan kekerasan. “Kita harus mampu memperkuat diri sendiri guna menangkal anasir yang bisa mengusik keutuhan kita sebagai sesama umat beragama, berbangsa, dan bernegara,” ujar Lukman. (ren)
© VIVA.co.id